17.12.11

Tiga boks tissu, dengan dua SS

h: betapa perempuan itu diberi intuisi yang kuat. aku kadang masih berpikir soal gift itu
b: gift nostalgia? what?
h: intuisi
b: apa soal intuisi itu?
h: iya
b: ???? kamu punya intuisi apa?
h: soal bocah itu. ehh..kok pembicaraane balik maning..balik maning
b: apa?
h: balik maning ning bocah kuwi...haaaaaaaaa. ga tahu ya, sepertinya kalau belum benar-benar clear. aku   tidak akan bisa berpikir normal...hahaaaaaaa
b: ya jangan pakai clear dong. pakai emeron atau shampoo lainnya aja
h: hayah
b: kok bisa nggak normal maksude piye?
h: belum fokus
b: tapi gpl. gak pake lama, kan?
h: i wish
b: i fulfill your wish. i wish, i kiss, i miss, i piss
h: huuuus
b: nek gak bisa mbuka, nanti-nanti aja. tapi yakin deh, ciamik jaket itu. pembicaraan kita tentang taruhan belum selesai loh. ayo tuntaskan!
dan sex appealmu bakal kemilau. DEAL?
h:hayah...ya, deal! pokoke jaket
b: berarti giliranku. kalau kamu nangis: tiga boks tissu TESSA, ingat merek TESSA, tiga warna: merah, kuning, biru. sepakat?
h: bok nya aja kan yang berwarna coz kalo nyari tisunya yang berwarna aku bisa bunuh diri
b: plastiknya, sayang....
h: ga ada yg jual..(adanya tisu makan..hihii). kenapa merah, kuning dan biru?
b: ini loh kayak yang untuk ngelap ingusmu yang meler karena abis nangis. itu warna merah. setahuku ada yang hijau tapi aku pilih warna primer
kuulangi: tiga boks tissu TESSA, ingat merek TESSA, tiga warna: merah, kuning, biru. sepakat?
h: yaaaaa
b: awas kalau mereknya TESSI atau SETTI, aku cium kamu. pokoknya TESSA, dengan dua SS
taruhan diTUTUP! sekarang kamu wajib bilang intuisi apa tadi?
h: intuisi. dari awal ada pergumulan antara kambing bandot dan kambing bunting!!!
 setelah di runtut ternyata benar. ini kesimpulanku sendiri berdasarkan fakta yang ku dapat
b: payaaaah....!!!

20.10.11

Kisah Pemburu Angin


”Matanya pusaran beliung dari kabar-kabar negeri ujung.
Ia datang tanpa genderang
Matamu penuh lukisan berwarna sephia
muram yang menggumam.
Geletarnya sampai ke sungsum
dan si pemburu angin itu teperdaya
tanpa luka
untuk diriku sendiri.”

Itu sajak untukmu...

Dia berdiri sembari mengumbar senyum. Tulisan besar ''Hardrock Hotel'' tertimpa pendar cahaya itu memucatkan wajahnya. Namanya ? Ah, aku lupa siapa. Tapi wajah dan bibir itu selalu muncul tersapa.
Dari bibir mungilnya keluar kalimat, ''Siap?''
Dan perbincangan dengannya, di bawah siraman lampu berpendar-pendar hotel mewah itu meluncur dengan deras. Santai dan banal.

Perempuan itu sejak lama menginginkan dirinya bisa jadi langsing. Dia bercerita bagaimana repotnya melakukan itu. ''Nggak gampang loh Mas. Aku berkorban banyak. Salah satunya adalah dengan begadang terus-menerus hingga berbulan-bulan.''
Kalimatnya muram. Tapi guris senyum tetap setia dari sudut bibirnya. Untuk penulisnya.

Di tengah-tengah perbincangan, dia bangkit. ''Begini ini kalau kita mau terapi langsing. Angkat tangan ke atas, dan wajib memperlihatkan pusar kita!'', ujarnya riang.

''Pusar? Kenapa harus terlihat?'', tanyaku.

''Karena dari pusarlah nanti terlihat berapa lemak yang ada di bagian perut kita.''
Tidak terlihat lemak diperutku. Coba kau telisik

Sudah pernah tuh kuraba, dan aku lupa! Lagi-lagi lupa, kayak apa, ya?
Dia lalu kembali duduk sembari mengatakan, ''Hayah, Masnya bisa lihat sekarang tak ada lemak di perutku.''

Dia menyerupu milkshake sebelum mencomot nugget seafood. ''Nugget seafood ini juga bagus loh untuk kelangsingan. Coba masnya rasakan?''

''Oh gitu, ya?''

''Iya, ayo dicoba dulu. Ini seafood kok. Dan jangan lupa dicocol pakai saus.''

Malam melarut. Kafe di sudut hotel itu mulai lengang.
''Lalu sekarang berapa berat Anda?''

Bibirnya tersenyum. Misterius. Pakar kelangsingan itu sejak lama terkenal sebagai perempuan misterius.

''Jangan tanyakan berat. Cukup Masnya lihat dan ukur sendiri. Kalau mau, coba Masnya gendong aku. Ya, gendonglah ke mana pun mau. Tapi jangan ke semak-semak atau terowongan berhantu. Aku benci kisah horor."
Ketika itu musik mengalun agak chill-out. Beberapa nadanya penuh stacatto.

Wajahnya agak terhentak oleh bebunyian patah yang mengalun dari cabikan bas yang tertimpa liukan perih saksofon.
''Anda tak suka jazz?''
''Oh jangan salah, aku suka. Tapi aku benci jazz yang terlalu swingy.''
''Kenapa?''
''Swing selalau hanya membuat aku merasa melambung ke awan tapi tak pernah menjejak ke bumi. Kan di sana aku bisa kedinginan. Still in the cold.
”Pffff..."
Saat mengucapkan kalimat terakhir itu, misterinya bertambah dalam.
''Bagaimana kalau kita mendengar Didi Kempot, Manthous, atau Cak Diqin?''

Matanya mendelik sebentar. ''Musik zadul en kampungan? Ndesit itu!''
''Baiklah, baiklah. Kita kembali ke topik. Soal kelangsingan itu. Ngomong-ngomong, jadikah tawaran Anda untuk saya gendong?''

Senyumnya kembali. Dan dari bibirnya terucap: ''But when I open my eyes......Your gone''

Perempuan itu pergi. Tetap membawa misteri.


In the cold of the nite...

17.10.11

bila...

katakan bila
tanpa perlu menjadi pendusta
sebab
semua bisa jadi perkara
tidak hanya untukmu
tapi juga dia

katakan bila 
tanpa perlu
bilang perantara
yang sesekali justru menyiksa

katakan bila

====

otakku dipaksa
otakku mengembara
kemana?

tidak perlu dicari
datang sendiri



you make me high

this words
still the same day
sept 25th

halaahh

berpacu dengan waktu
sebelum matahari
menamparmu

mari mengejek matahari

4.10.11

Heeyy..You just like a dreamer!

I have your arms around me
Warm like fire...

But when i open my eyes
Your gone....

Mimpi loe....

-di siang yang tidak bolong-

Pyaaaarr...!!!

Pyaaaarr...!!!
Vas yang tadinya berada di meja pojok ruangan itu berubah menjadi keping-keping dan berserakan di sekitar ruangan
kamu..kamu..kamu lagi!! coba kamu hitung udah berapa kali kamu pecahin vas kesukaanku?!!
dan si tertuduh bersikap seperti biasa, diam tak bergeming. ekspresi kemarahanku dengan mata melotot dan penuh dendam justru disuguhi tampang innocent memenuhi raut mukanya yang jelas-jelas bikin aku sepet saat itu

hanya diam dan tak sekalipun memberi alasan kenapa vas kesukaanku itu bisa berantakan di lantai. seingatku sudah tiga kali kamu melakukan hal yang sama pada vas-vas ku sebelumnya

tak tahu lagi bagaimana harus mencari jawaban jelas membuat aku meradang hingga kepalan tangan kananku maju ke arah wajah tanpa ekspesinya. muka dan badan  limbung ke kiri. ak ada perlawanan. hanya diam
mungkin ini yang kamu inginkan? aku tidak minta kamu mengganti vas kesukaanku, atau meminta pertanggungjawabanmu di depan meja hijau. aku hanya ingin tahu kenapa vas itu bisa pecah…tersenggol, tertiup angin, pecah sendiri...aku hanya ingin tahu alasanmu..argumenmu..thats all!!
bisa jadi pecah emang kesenggol nggak sengaja, atau kamu emang punya hopi mecahin barang pecah belah...??!!
aku hanya ingin tahu..dan rasa ingin tahuku tak kau penuhi
padahal jelas mudah sekali menjawab pertanyaanku..dengan sejujurnya

akupun kemudian bertanya-tanya
apa sih susahnya menjawab pertanyaan dengan jujur???
atau diammu itu karena tidak menemukan jalan menjawab pertanyaan dengan kebohongan..hmmmm
masih tak ada reaksi
kemarahan itu akhirnya kubawa berlalu meninggalkanmu. aku tidak tahu apa isi hatimu, berkecamuk? dendam dengan kepalan tanganku, marah atau cuek dan nggak  perduli??
aku memilih tidak memikirkanya apa yang dia pikirkan

hanya satu yang ada dalam benakku..satu kata : pengecut!!

***

aku memastikan kalau  pecahan itu tersapu bersih tanpa meninggalkan secuilpun serpihan tertinggal. aku memeriksanya berkali-kali dan memastikan  biar nggak melukaiku dan orang disekitarku.

Pecahan..pecahan vas yang berserakan di ruangan semua sudah tersapu bersih dan terbuang di tempat sampah belakang rumah.
"biar diambil tukang sampah langganan atau dikais pemulung yang sesekali melintas sekitar rumah,"pikirku
memang tiap pagi selalu datang pemulung memeriksa tempat sampah dari baru bata itu. artinya pemulung itu setiap hari berharap mendapat rongsokan yang bisa menambal hidupnya. padahal bisa saja sudah diambil tukang sampah langganan dan ngacirlah dia. tapi  tetap aja melongoh siapa tahu ada benda berharga yang bisa diambilnya.

***
bukannya nggak punya waktu,  bisa jadi dalam hal ini aku juga nggak punya cita rasa tinggi dan punya keinginan untuk menciptakan karya seni baru dari hasil pecahan yang kukumpulkan dan sudah terbuang di tempat sampah
aku bukan tipikal orang yang bijaksana mengumpulkan serpihan, pecahan dan mengelemnya satu persatu sehingga terlihat lagi bentuk aslinya. meski dengan goresan  dan kemudian memajangnya di tempat favorit.

Sometimes its better to leave them broken daripada merangkainya kembali dengan tidak sempurna, meskipun itu bisa jadi menghasilkan sesuatu yang lebih indah dari vas sebelumnya. Atau bisa menyakiti oranglain karena kubiarkan begitu aja.

Terlepas dari itu, apapun penilaian untuk  si pemecah vas milikku
Kalau ditanya apakah kamu sakit hati karena vasmu dipecahkan..dipecahkan karena memang kamu satu-satunya orang yang ada sewaktu vas itu jatuh.
Let me tell the thruth...Semua orang pasti akan menjawab IYA pada saat itu juga, apalagi jika penyebabnya kecerobohan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Tapi kalau pada akhirnya memang nggak bisa menemukan alasan kenapa itu bisa terjadi...ya sudah biarkan saja..relakan saja toh kenyataannya vas itu sudah pecah dan tak  mungkin bisa kembali seperti memutar adegan film yang bisa diulang-ulang semaunya.
sapa tahu nanti bakalan dapet vas baru yang lebih bagus..bakalan dapet? ngarep dikasih..heeee
atau kebetulan lihat di etalase toko langsung kesengsem..

Aku rasa langkah itu lebih bijak dibandingkan meratapi vas yang sudah pecah. apalagi kalau pecahannya menyakitimu atau orang disekitarmu...(non)

01082011
after lunch on fasting day

3.10.11

Ceremony make me sick!!!


"Ma, kenapa kita nggak pasang bendera kayak Ilham?," si ibu hanya terdiam tak berucap.
Mungkin saja karena ia sedang berpikir kapan terakhir kali memasang bendera di depan rumahnya. Atau memikirkan tiang bendera yang nggak ada di depan rumah. Atau kebingungan mengingat  dimana dimana bendera yang udah lama banget nggak pernah dipasang saat 17-an itu tersimpan.

"Memangnya kenapa Ma?,"
Serbuan pertanyaan bocah tetangga berusia delapan tahun itu juga membuat aku kembali mengingat bendera dua warna kebanggaan Indonesia.

"Kapan  ya terakhir kali mengikuti upacara bendera 17 Agustus?," tanyaku dalam hati.
Yang jelas sudah luamaaa sekali. Tepatnya, jelas saja aku lupa. Tapi kalau di runut lagi, kira-kira selepas SMA aku tak pernah merasakan lagi siksaan upacara.

Kok siksaan...? ya, iyalah...
Mungkin karena tubuhku yang mungil jadi semua menuntutku untuk selalu berada di depan. Baris yang sangat tidak mengenakkan karena harus tersiksa dengan posisi tegak bak robot hingga sekian lama. aliran bulir-bulir keringat di kening dan dipunggung yang merembes di baju karena terik matahari. Belum menahan api  cemburu  mendengar suara cekikak-cekikik dibelakang dengan posisi badan yang disuka.

Kebosanan dan pemberontakanku berdiri di baris depan kadang ku luapkan dengan datang tidak tepat waktu alias telat. Kalau nggak apes berdiri di luar pagar sekolah berarti menyusul di baris belakang.
"Asyiiik..." pikirku. Adem berada dibalik tubuh teman yang lebih besar meski kadang aromanya  membuat pusing tak kepalang.

Atau sewaktu kuliah? sepertinya aku tidak pernah mengikuti upacara. Bagaimana tidak, di kampusku  ini tidak ada aturan yang namanya ospek, atau pembinaan yang berkaitan dengan latihan disiplin..hihiii.
Akibatnya beberapa teman dengan kompak menyindir."Dasar nggak nasionalis."
 
Nongol di tempat berlangsungnya upacara dan ikut nimbrung melakukan penghormatan pada merah putih? kayaknya yang beginian juga nggak pernah.
Paling hanya menonton siaran langsung di televisi. Tapi kapan terakhir aku melakukan itu? Lupa juga karena sudah terlalu lama...hee

Lantas kalau dihitung, sudah berapa lama aku nggak pernah lagi merasakan yang namanya upacara bendera. Menirukan teks pancasila dan proklamasi, mendengarkan derap kaki petugas pembawa bendera, menyimak pimpinan upacara berseru tentang pentingnya mengisi kemerdekaan, membaca doa hingga posisi berdiri yang membuat kaki pegal dan kesemutan..

***
"Apa arti kemerdekaan buat kamu dan bagaimana kamu memaknainya,"pertanyaan klise sering terdengar. Kalau dulu aku selalu menjawab dengan mantap. Belajar yang rajin agar bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.
O..o...
Lantas bagaimana kalau aku ternyata nggak belajar dengan rajin? pasti kemudian muncul kekhawatiran. Berarti aku nggak bakalan bisa menjadi orang yang dinginkan bangsa.

Pertanyaan itu terus terngiang.
Tapi kini, semua sudah berubah karena pagi terus berganti dengan malam. Waktu terus berlalu.
Akupun tak merasa harus berdiri tegak, memicingkan mata dan menatap nanar bendera berkibar di tiang dengan tangan menghormat untuk merasakan arti kemerdekaan

Pastinya kini jawaban itu tak lagi sama,  meski pertanyaan yang terlontar masih senada.
Aku juga akan menjawab tegas. ”Aku pilih merdeka hati saja.”
menghargai diri sendiri agar bisa merdeka. Aku rasa itu sudah cukup.

-Non-

more than just a flag. u know that!!
i wrote this note in independence day and i posting in my blog when i look half-mast flag in sept 30