Langsung ke konten utama

Sajak Celana Dalam


***
Aku tak suka bercelana dalam
Bagaimana bisa celana dalammu kupinjam
Lebih baik, kau telanjangi aku
Untuk tahu

***
Kekasihmu memang berwarna ungu
Kekasihku tidak bercelana dalam
Apalagi warna ungu
Bagaimana bisa kau menuduhku memakai celana dalam kekasihmu?
Jangan mengharu-biru

***
Kau, pemilik celana dalam yang muram
Mari pandangmu kutikam
Mari isi celana dalammu kutikam
Dengan pedang panjang
Yang dibawa pelaut petualang

Mari bercinta, wahai kau

***
Wahai sang petualang
senjatamu telah hilang
bersama kebesaran
Wahai sang petualang
ketajaman pedangmu telah tenggelam
sarung pedangmu
kini berteman sepi
meratapi isi yang mati
Jadi,
bagaimana lagi
cara kau berperang?

***
Aku butuh seorang dewi
Peniup udara ke batu ke api
Biar hidup segala cerita
Biar tak redup segala lentera

Kaukah dewi
Yang selalu berlalu
Ketika sepi
Membatu

***
Aku
bukan Banowati
yang menanti hati
dari Ajuna
yang kadang jumawa
Pun bukan Dupadi
yang kau puji
ketika asmara
membuncak di dada.


-semilir angin sore.Sat, 24 Sep 2011 14:26:34-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Negeri Dongeng #3

Sophia memanggut. Pikirannya menjelajah ruang batin. Mencoba berpikir ulang. Mempertanyakan lagi perjalanan malam itu.  "Untuk Apa..." batinnya. Bukan untuk pria Jamaica, bukan untuk singkapan masa lalu. Entah.... yang terlintas di benaknya pada saat itu hanya satu.  "Untuk Thomas..? ."  Tidak. Batinnya menyanggah. Ini karena sepenggal kata. Tapi... Semua yang tak pernah terpikirkan terjadi. Sophia tak mampu menahan diri. Seperti apa akhir cerita itu. Sophia tidak pernah tahu. Thomas bergeming. Sophia pun tak pernah bertanya. Dan Thomas juga tak pernah mengisahkan akhir kisahnya. Semua lenyap seketika.  Ditelan malam. Gelap. Di hempas kemarau panjang. Kering. ****

Kisah Negeri Dongeng #2

Thomas menajamkan mata. Tubuhnya tertuju pada lukisan batu. Sepeminum teh, bibirnya tersungging. Senyum. Kepala sesekali memanggut. Menggeleng. Senyumnya melebar. Kakinya mundur beberapa langkah. Berdiri tegak. Menggatupkan kedua tangan di dada. Menutup kedua Kelopak mata. Lalu Terdiam. Terpaku hikmat bersama masa lalu untuk sekian waktu. Mendekat. Tangannya meraba lukisan batu. Mengelus penuh makna. Dia terpana. Takjub keindahannya. Kisahnya. Lalu Terdiam. Kemudian duduk bersila. Merogoh kantong yang selalu dibawanya. Mengambil lintingan tembakau. Menyulut api. Kepulan asap hisapan pertama memendar ke segala penjuru. Terterpa angin menghempas lukisan batu. Sisanya menyembul di sela bibir.  Setelah hisapan ketiga, lintingan itu menyisip di sela katupan bibirnya. Tangannya meraih bungkusan kecil berwarna putih. Di buka. Tangan kanan mengambil bongkahan warna coklat sebesar kerikil. "Ini simbol cahaya. Amber. Di sinilah kehidupan dimulai. Memancar. Menerangi ke segala penjuru,...

Tanpa Judul

Nayla masih saja memegang hp dan meletakkannya didada. Untuk kesekian kali tak terdengar suara balasan dari panggilan hp-nya. "Ini sudah ke-15 kali,sms juga sudah kukirim hingga 5 kali," gumam Nayla. Tapi sama sekali tak terdengar bunyi dering hp dari kekasihnya, Senja. sudah lima jam Nayla tertidur di kamar kontrakannya. Ruangan berukuran 3x3 meter ini yang menemaninya menunggu jawaban dari Senja. sementara tubuh mungilnya terus menggigil, kepala terasa berat dan mata berkunang-kunang. "Aku sakit.. apakah kamu tahu sakitku ini Senja," ucap Nayla lirih. Ia terus saja berbicara dan bergumam sendiri. "Kenapa tak kau jawab saja pesan singkatku atau teleponku. Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau lakukan disana. sementara kau pun tak tahu apa yang sedang terjadi dengan diriku. Atau kau memang enggan untuk ingin tahu... Kau cukup berkata dan tidak berdiam seperti ini..." *** Tubuh Nayla semakin kepayahan. Ia tak mampu bangun dari tidurnya ...