Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kolom

Konflik

“Peperangan melawan diri sendiri adalah bentuk peperangan terbesar diantara perang yang ada.” Quote di buku yang bercerita tentang kisah-kisah humanis di wilayah konflik yang kubaca tiga hari lalu itu sepertinya biasa saja. Tapi karena kubaca beberapakali dan kurenungkan justru nggak lepas dari benakku. Jadi kepikiran. Jangan-jangan karena aku merasa tersindir dengan kalimat di cover belakang buku yang ditulis dengan tinta warna merah itu. Tapi aku nggak akan bicara tentang orang-orang yang “terjebak” berada di area konflik dalam arti harafiah seringkali dikatakan wilayah perang. Atau seperti yang ada di Wikipedia, konflik ( configure) : saling memukul. Yang dalam konteks sosiologis, diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.  Ditambah lagi dalam pandangan tradisional (The Traditional View) mengatakan kalau konflik ...

Something in The Air...

Tugas   kuliah yang kukumpulkan beberapa hari lalu masih saja terngiang. Terutama kalimat pertama yang kutulis ketika menelaah buku Communication and Human Behaviour Brent D. Ruben,Professor komunikasi dari Rutgers University ini.  “Setiap manusia berkomunikasi dengan atau tanpa disadari seperti halnya   bernafas.”   Sesederhana itu? Tentu saja tidak, karena proses berkomunikasi itu sebenarnya tidak mudah. Pun dengan bernafas! Kalau tiga kata   itu pendapat pribadiku, hehe. Ya, karena kita emang bisa bernafas dengan mudah ketika sedang leyeh-leyah di tempat tidur atau relaksasi dengan breathing exercise seperti yang diajarkan Matthias Witzel, psikoterapi asal Jerman yang jadi trainerku beberapa waktu lalu. Tapi di kesempatan lain, bernafas yang katanya simpel   itupun bisa menjadi hal yang luar biasa sulit. Nggak percaya? Tanya orang yang asmanya kambuh atau ketika kamu berlari untuk sekian waktu tertentu tanpa istirahat. Kamu pasti butuh waktu ...

Kehilangan Itu...

Pernah kehilangan sesuatu, seseorang atau apa pun yang kamu anggap penting? Aku yakin pasti udah pernah meskipun yang hilang itu hanya flashdisk atau bolpoin. Kalau saya sih nggak hanya sekali, tapi bertubi-tubi. Rasanya? Jangan tanya deh, seperti orang putus cinta, hahaha.... Nggak enak makan dan tidur, ingin marah, nangis. Sebal dengan diri sendiri bahkan meratapi kehilangan itu hingga berhari-hari. Hiks! Meski itu hanya sebuah syal? Ya, aku masih ingat ketika barang yang semestinya terlilit di leher justru nongkrong di atas tas yang terselempang di pundak. Dengan santainya melenggang turun dari kereta di stasiun Bandung tanpa menyadari benda peninggalan seorang kawan yang kudapat tahun lalu itu melayang dengan suksesnya entah ke mana. Sialnya, baru kusadari benda kesayangan itu lenyap setelah menikmati secangkir kopi di kafe ruang tunggu stasiun. ''Tolong tanyain portir yang lewat di jalur ini. Harganya sih nggak seberapa tapi syal itu sangat berarti bagi say...

Menjamah Mimpi

”Orang Miskin Dilarang Sekolah”. Pernah baca novel ini? di Surabaya, siswi   kelas II SMPN 37 Surabaya   dihukum berdiri di tengah ratusan peserta upacara bendera di sekolahnya. Kesalahannya, hanya karena nggak memakai   seragam baru lengkap dengan badge dan logo sekolah. Seragam yang menjadi   keniscayaan baginya ditengah kondisi ekonomi orangtua yang membelit.  Kisah Fitri Ayu yang kubaca di sebuah media on-line nasional beberapa hari lalu, mengingatkanku pada novel   plus pin badge dengan tulisan sama keluaran Resist Book   yang   kusambar dipameran buku di Yogyakarta beberapa tahun lalu. Dari judul novel diatas sudah pasti hampir bisa ditebak isi dan makna dari tulisan Wiwit Prasetyo, sang pengarang.  Peristiwa yang dialami Fitri Ayu mungkin nggak sepahit Andika Imam Taufiq. Setiap hari, bocah   berumur sembilan tahun ini harus membawa kursi plastik   ke sekolahnya   di SDN Kotakusuma Pulau Bawean, Gresik. Dengan ala...

Deal with Your Trauma...

Bermain balon bagi anak usia lima tahun mungkin saja jadi kesenangan tersendiri. Seperti yang dilakukan anak-anak tetangga. Gimana nggak, udah capek-capek meniup biar balon yang dipegangnya membelendung, eh malah kemudian dipukul-pukul, diduduki, diinjak   hingga meletus. Bahkan kalau belum berhasil juga, mereka sibuk mencari benda berujung lancip hingga balon itu mengeluarkan bunyi beruntun. Duueer...Duueer!!! Sensasi efek kejut disambut cekikikan dan gelak tawa kemaki menjadi tanda keberhasilan meletuskan satu per satu balon yang telah ditiup.   Mereka kegirangan. Reaksi serupa pernah kulihat ketika bunyi petasan memberondong perayaan malam takbiran. Kadang sebal juga dan sering menggerutu sendiri. Lalu berteriak, ” Hooii, Iseng banget sih. Emang kalian nggak ada kerjaan..??!!...uupps. Tapi pemandangan bertolakbelakang pernah kujumpai. Bunyi bikinan para ”hero” itu justru menjadi teriakan histeris Zaki. Kedua tangannya menutup rapat pendengarannya. Air mata...