Langsung ke konten utama

Postingan

Bersandar di Batu Karang

menulis katanya adalah sebuah perjalanan dan sekarang  malah bersandar di sebuah batu karang tanpa memedulikan perjalanan masih panjang di depan memilih berhenti (entah sesaat) karena tak tahan dengan pemandangan  hanya sesekali melihat  matahari jingga di ujung cakrawala... selebihnya..badai bertahan dengan berhenti dan bersandar mungkin jalan  terbaik (untuk sesaat) tapi sampai kapan tubuh  terus bersandar... membuat tangan dan kaki  kelu untuk sekadar bergerak menggores dan memaknai kata entah... Suatu ketika nama Natalie Goldberg muncul di depan mata "Writing Down the Bones" Di batu karang ini... mencoba mencari keheningan mengalirkannya dalam kata untuk menciptakan makna...mengikatnya dan mengabadikannya menjadi diri..pribadi seperti sungai jernih mengalir lepas diantara riak hingga bermuara ke danau tenang untuk sekadar diam Tapi dalam diam itu tanpa disadari ada sebuah sisi dalam diri yang seringkali tak pernah ditemukan ...

Kepada Laut

Kepada laut..aku berikan mimpi ini Kepada laut..aku titipkan hati ini Kepada laut juga..harapan itu tiada henti Meski semua harus diakhiri Kepada laut... untuk yg menerjang laut n menyaksikan lumba-lumba menari menyerap energi kerlip plankton bak mutiara dimalam hari cerita dari Liwutongkidi dan Fainemo november

Semu

Mau sampai kapan, bersandiwara Mencoba membuat warna tapi sebenarnya itu... hanya tipu daya mau siapa? itu bukan inginku ya, pasti tahu bulan tak kan sanggup menatap dan mengejar matahari dan mimpi itu cuma harapan semu *time stood still* w/ a big storm

Cuma Tiga Huruf

Mencari gejolak hingga ke lubuk hati Ah..mata teduhmu, kenapa menyambarku Padahal itu bukan tiga kata cuma tiga huruf saja Ah..mimpi, kenapa hadir di siang hari membuatku semakin gerah saja Melawan panasnya rasa *kamu makhluk dari mana.... shade eyes Welcome November 031113

Konflik

“Peperangan melawan diri sendiri adalah bentuk peperangan terbesar diantara perang yang ada.” Quote di buku yang bercerita tentang kisah-kisah humanis di wilayah konflik yang kubaca tiga hari lalu itu sepertinya biasa saja. Tapi karena kubaca beberapakali dan kurenungkan justru nggak lepas dari benakku. Jadi kepikiran. Jangan-jangan karena aku merasa tersindir dengan kalimat di cover belakang buku yang ditulis dengan tinta warna merah itu. Tapi aku nggak akan bicara tentang orang-orang yang “terjebak” berada di area konflik dalam arti harafiah seringkali dikatakan wilayah perang. Atau seperti yang ada di Wikipedia, konflik ( configure) : saling memukul. Yang dalam konteks sosiologis, diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.  Ditambah lagi dalam pandangan tradisional (The Traditional View) mengatakan kalau konflik ...

Something in The Air...

Tugas   kuliah yang kukumpulkan beberapa hari lalu masih saja terngiang. Terutama kalimat pertama yang kutulis ketika menelaah buku Communication and Human Behaviour Brent D. Ruben,Professor komunikasi dari Rutgers University ini.  “Setiap manusia berkomunikasi dengan atau tanpa disadari seperti halnya   bernafas.”   Sesederhana itu? Tentu saja tidak, karena proses berkomunikasi itu sebenarnya tidak mudah. Pun dengan bernafas! Kalau tiga kata   itu pendapat pribadiku, hehe. Ya, karena kita emang bisa bernafas dengan mudah ketika sedang leyeh-leyah di tempat tidur atau relaksasi dengan breathing exercise seperti yang diajarkan Matthias Witzel, psikoterapi asal Jerman yang jadi trainerku beberapa waktu lalu. Tapi di kesempatan lain, bernafas yang katanya simpel   itupun bisa menjadi hal yang luar biasa sulit. Nggak percaya? Tanya orang yang asmanya kambuh atau ketika kamu berlari untuk sekian waktu tertentu tanpa istirahat. Kamu pasti butuh waktu ...